Cerita Inspiratif Alumni MBKM: Melanjutkan Studi di Inggris Lewat Pengalaman di Program Kampus Mengajar

Program Kampus Mengajar yang merupakan salah satu program implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah berhasil memberikan dampak nyata, baik bagi peningkatan kompetensi peserta mahasiswanya, maupun kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di sekolah sasaran.

Sejak diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim pada tahun 2020, Program Kampus Mengajar telah berhasil melaksanakan penugasan hingga enam angkatan yang melibatkan lebih dari 112.000 mahasiswa dan 23.000 lebih sekolah sasaran.

Perjalanan panjang tersebut, telah memberikan dampak nyata tidak hanya bagi peningkatan literasi dan numerasi di sekolah, namun juga menjadi pengalaman berharga yang merubah hidup bagi mahasiswa pesertanya, termasuk salah satunya adalah Athi Nur Auliyati Rahmah, Alumni Program Kampus Mengajar Angkatan 1.

Athi, sapaan akrabnya, pernah mengenyam pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta dan mengambil program magister dengan jurusan nano-science di University of Bristol. Perkenalan Athi dengan Program Kampus Mengajar terjadi di tahun 2021 di mana pada saat itu informasi mengenai program-program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) disampaikan oleh pimpinan perguruan tinggi.

“Waktu itu, kami dikumpulkan di rektorat UNY dan disampaikan bahwa ada pelaksanaan Program Kampus Merdeka dari Kemendikbudristek yang bisa mendapatkan pengakuan 20 sks jika bergabung di salah satu programnya,” kenang Athi.

Dari berbagai pilihan program yang ditawarkan, Athi terpanggil untuk bergabung ke Program Kampus Mengajar. Selain linear dengan rumpun program studinya, Athi juga tertarik dengan opsi di mana dia bisa berkontribusi secara langsung terhadap pendidikan di Indonesia.

Baca Juga :  300 Lebih Perusahaan Terbaik Bergabung dalam Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat

Di Program Kampus Mengajar, Athi bertugas di SDN Guluk-Guluk 2, Kabupaten Sumenep. Lokasi penugasan yang tidak jauh dari rumahnya membuat ia bisa cepat beradaptasi di sekolah dan memahami kondisi sekolah.

“Sekolah dan adik-adik peserta didik menyambut hangat kehadiran saya ketika pertama kali datang dan menyampaikan bahwa saya akan bertugas mendampingi guru untuk meningkatkan pembelajaran literasi dan numerasi,” cerita Athi.

Ketika bertugas di tahun 2021 di mana pandemi COVID-19 masih menjadi tantangan bagi dunia pendidikan, tidak mematahkan semangat Athi untuk mendampingi peserta didik. Dalam menjalankan penugasannya, ia juga banyak berkolaborasi bersama para guru sehingga program-program yang dijalankan terkait literasi dan numerasi memang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Kondisi sekolah yang ada di pelosok pulau Madura dan juga masyarakat yang masih gagap teknologi pun mendorong Athi cukup menjadi kendala. Namun, dengan semangat perubahan yang dititipkan oleh Kemendikbudristek, ia pun pada akhirnya berhasil menyelesaikan penugasan selama kurang lebih empat bulan.

“Ketika di akhir, saya merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan masyarakat sekolah yang sudah saya anggap keluarga sendiri,” tuturnya. Pengalaman dan berbagai pelajaran yang athi dapatkan dari penugasan di Program Kampus Mengajar, kemudian menjadi inspirasi karyanya dalam mengikuti Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Kemendikdikbudristek.

“Ketika saya bertugas, anak-anak perempuan di lingkungan sekitar sekolah masih banyak yang putus sekolah dan sebagian juga hanya mampu menamatkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama. Dalam karya tersebut, ada pesan yang ingin saya sampaikan bahwa perempuan juga bisa memiliki peluang yang sama untuk menjadi sesuatu yang lebih besar,” Athi menjelaskan karyanya.

Baca Juga :  Pencapaian Perguruan Tinggi Indonesia dalam Top 500 QS World University Rankings 2023

Dengan makna pesan yang mendalam itu, karya Athi kemudian terpilih sebagai juara dan menjadi salah satu prestasi yang membuatnya bisa lulus dari UNY tanpa skripsi. Lebih jauh lagi, Athi juga terpilih menjadi penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) untuk program Magister di University of Bristol, Inggris.

Bagi Athi, keputusan untuk bergabung di Program Kampus Mengajar merupakan keputusan penting yang mengantarkannya belajar dari pelosok pulau Madura ke Britania.

“Saya sangat bersyukur pernah mengikuti Program Kampus Mengajar. Keikutsertaan saya di program ini menjadi titik balik yang bisa mengantarkan saya untuk menggapai mimpi yang lebih tinggi,” ucap Athi di akhir ceritanya ceritanya.

Cerita Athi, merupakan satu dari banyaknya cerita baik mengenai manfaat yang dirasakan mahasiswa dari Program Kampus Mengajar. Dengan dampak yang sudah dihasilkan, Kemendikbudristek pun kembali membuka pendaftaran mahasiswa untuk bergabung di Program Kampus Mengajar Angkatan 7 tahun 2024. Periode pendaftaran mahasiswa untuk Program Kampus Mengajar Angkatan 7 sendiri masih dibuka hingga 24 November 2023 mendatang. Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 7, dapat diakses melalui Instagram resmi Kampus Mengajar: @kampusmengajar; Laman MBKM Program Kampus Mengajar: https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/program/mengajar; dan surat elektronik Kampus Mengajar: kampus.mengajar@kemdikbud.go.id

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading...
833 Views